Cara Mengenali Jenis Migrain

Cara Mengenali Jenis Migrain – Kalau sudah di serang migrain, senang bangun dari tempat tidur pun susah. Pasalnya, nyeri kepala gara-gara migrain mampu berlangsung selama berjam-jam, lebih-lebih seharian. Penyebab persoalan kesehatan ini mampu bermacam-macam. Mari ketahui apa saja pemicunya.

Cara Mengenali Jenis Migrain

Banyak orang berpikiran migrain sebagai sakit kepala sebelah. Nyatanya, migrain mampu termasuk menyerang ke dua sisi kepala Anda. Memang, persoalan kesehatan kepala ini bukan penyakit mematikan. Tapi, kecuali sudah terkena, aktivitas Anda tentu akan terhambat.

Migrain sendiri terbagi didalam dua jenis, yaitu migrain tanpa aura dan migrain bersama aura. Mari ketahui perbedaannya.

Migrain Tanpa Aura

Jenis ini biasa disebut migrain biasa. Migrain tanpa aura merupakan model yang paling kerap berlangsung di masyarakat. Menurut International Headache Society, orang yang menderita migrain tanpa aura kebanyakan akan merasakan serangan sakit kepala yang berlangsung selama 4-72 jam.

Beberapa gejala migrain tanpa aura antara lain:

Hanya berlangsung pada satu sisi kepala (unilateral).
Nyeri berdenyut atau cuma berdenyut tanpa nyeri.
Tingkat nyeri tengah sampai berat.
Rasa sakit makin tambah buruk pas penderita bergerak.
Sensitif pada cahaya (fotofobia).
Peka pada suara (fonofobia).
Mengalami mual bersama atau tanpa muntah maupun diare.
Sakit kepala bukan disebabkan oleh persoalan kesehatan atau diagnosis lain.

Artikel lainnya: 8 Fakta Seputar Nyeri Kepala Migrain

Migrain bersama Aura

“Jenis ini disebut migrain klasik, migrain rumit, atau migrain hemiplegia. Migrain model ini lebih jarang terjadi, namun mampu mengimbuhkan gejala yang amat parah,” ujar dr. Bobtriyan Tanamas dari

Sesuai bersama namanya, migrain bersama aura ditandai bersama timbulnya gangguan penglihatan. Penderita seperti memandang garis bergelombang, cahaya terang, bintik gelap, atau tidak mampu memandang benda bersama jelas.

Selain itu, migrain bersama aura termasuk mampu membawa dampak timbulnya gejala berikut:

Masalah sensorik tubuh, wajah, atau lidah (seperti mati rasa, kesemutan, atau pusing berputar).
Kesulitan bergerak atau badan lemas yang mampu berlangsung sampai 72 jam.
Kesulitan berkata atau disartria (ucapan tidak jelas).
Tinnitus atau telinga berdenging.
Masalah pada pendengaran (hypacusis).
Penglihatan ganda (diplopia).
Ketidakmampuan untuk mengontrol gerakan tubuh (ataksia).
Penurunan kesadaran.

“Meski berbeda, gejala migrain tanpa atau bersama aura sama-sama mampu keluar satu atau dua hari, sebelum saat penderita merasakan keluhan sakit kepala. Kondisi ini dikenal bersama langkah prodromal. Artinya, penderita awalannya akan mengidam makanan, depresi, kelelahan, kekurangan energi, kerap menguap, hiperaktif, enteng marah, dan leher kaku,” kata dr. Bobtriyan.

Setelahnya, penderita akan mengalami fase serangan. Ini adalah fase paling parah. Ketika ini terjadi, penderita akan merasakan nyeri migrain yang sebenarnya. Pada lebih dari satu kasus, gejala yang dirasakan penderita mampu tumpang tindih.

Hal yang setelah itu dialami penderita adalah fase post formal. Pada fase ini, penderita migrain kebanyakan akan mengalami pergantian kondisi hati. Ini mampu berkisar dari perasaan euforia dan amat bahagia, sampai perasaan amat capek dan apatis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *