Dwi Pratiwi dkk mengajukan judicial review UU Narkotika ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan memohon MK melegalkan ganja untuk kesehatan. Dwi merupakan ibu dari anak yang menderita cerebral palsy, yakni lumpuh otak yang disebabkan oleh perkembangan otak yang tidak normal. Apa argumennya?

Hal itu tertuang didalam salinan keinginan yang dikutip detikcom dari situs MK, Senin (23/11/2020). Dwi dkk mengajukan sejumlah argumen hukum. Di antaranya:
Baca juga:
Penderita Epilepsi Asal Surabaya Minta Ganja Hidroponik Dilegalkan MK
Bandar Taruhan
1. Pasal 28H ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi ‘Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak mendapatkan layanan kesehatan’.
2. UU Nomor 11 Tahun 2005 berkenaan Pengesahan International Convenant on Economic, Social and Cultural Rights. Indonesia menyepakati terdapatnya jaminan hak atas layanan kesehatan.
3. Pasal 4 UU Kesehatan berbunyi ‘Setiap orang berhak atas kesehatan’. Dalam Penjelasan disebutkan hak atas kebugaran yang dimaksud didalam pasal ini adalah hak untuk mendapatkan layanan kebugaran dari layanan layanan kebugaran supaya dapat mewujudkan derajat kebugaran yang setinggi-tingginya
4. Pasal 1 ayat 13 UU Kesehatan menyatakan ‘pelayanan kebugaran preventif adalah suatu kegiatan pencegahan pada suatu masalah kesehatan/penyakit’.
5. Pasal 1 ayat 15 UU Kesehatan menyatakan ‘pelayanan kebugaran rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke didalam masyarakat supaya dapat bermanfaat kembali sebagai bagian masyarakat yang bermanfaat untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin cocok dengan kemampuannya’.
6. Pasal 1 ayat 16 UU Kesehatan menyebutkan ‘pelayanan kebugaran tradisional adalah penyembuhan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan cocok dengan norma yang berlaku di masyarakat’.
7. Pasal 4 ayat 1 UU Narkotika menyatakan Undang-Undang berkenaan Narkotika memiliki tujuan menjamin ketersediaan Narkotika untuk keperluan layanan kebugaran dan/atau pengembangan pengetahuan pengetahuan dan teknologi.
8. Pasal 7 UU Narkotika menyatakan narkotika hanya dapat digunakan untuk keperluan layanan kebugaran dan/atau pengembangan pengetahuan pengetahuan dan teknologi.
9. Laporan jurnal ilmiah internasional 2019 yang berjudul ‘epidiolex (Cannabidiol): A New Hope fot Patients with Drevet or Lennox-Gastaut Syndroms’ menyimpulkan bahwa satu produk Cannabidiol (CBD) murni sudah menyatakan keampuhannya untuk membuat sembuh bentuk epilepsi, layaknya sindrom Lennoxbeberapa-Gastaut dan sindrom Dravet yang masih kerap resisten pada bentuk penyembuhan lain.
10. WHO sudah mengakui beberapa kegunaan zat-zat kandungan dari Cannabis yang lumayan ampuh untuk pengobatan. Dalam situs resmina, WHO menulis beberapa hasil penelitian dapat menyatakan efek terapi cannabinod untuk mual dan muntah pada pasien yang menderita pada penyakit fase tingkat lanjut layaknya kanker dan AIDS.
11. WHO menggelar forum WHO Exoert Committee on Drug Dependence ke-140 yang diselenggarakan di Jenewa pada 4-7 Juni 2018. Dari laporan itu disimpulkan beberapa jenis turunan tanaman ganja terbukti untuk penyembuhan dan miliki risiko lumayan rendah untuk menimbulkan ketergantungan dan disalahgunakan supaya untuk turunan senyawa ganja spesifik tidak kudu diatur didalam scheduling Konvensi 1961.
12. Saat ini setidaknya tersedia 40 negara yang melegalkan ganja untuk kesehatan. Di antaranya Argentina, Australia, Jerman, Yunani, Belanda, Norwegia, Inggris, Bulgaria, Kanada, Israel, Peru, Slovenia, Chili, Italia, Polandia, Belgia, Amerika Serikat, Jamaika, Romania, Prancis, Kroasia, Lesotho, Kolombia, Portugal, Siprus, Luksemburs, Swiss, Zimbabwe, Selandia Baru, Turki, Denmark, Finlandia dan Spanyol.
Baca juga:
Asa 2 Ibu Ingin Ganja Dilegalisasi Demi Obati Anak Epilepsi

Dari pertimbangan di atas, Dwi dkk memohon kepada MK menambahkan penafsiran terbatas pada Penjelasan Pasal 6 ayat 1 huruf a UU Narkotika.

“Menyatakan Penjelasan Pasal 6 ayat 1 huruf a UU Narkotika bertentangan dengan UUD 1945 selama tidak dibaca ‘dalam keputusan ini yang dimaksud dengan ‘narkotika Golongan I’ adalah narkotika yang dapat digunakan untuk tujuan pengembangan pengetahuan pengetahuan dan layanan kebugaran dan atau terapi serta membawa potensi terlampau tinggi menyebabkan ketergantungan’,” ujar pemohon.

Selain Dwi dkk, juga ikut menggugat ke MK dengan tujuan serupa, penderita epilepsi Ardian Aldiano. Ardian dihukum 6 th. penjara karena miliki 27 pot tanaman ganja organik dengan ukuran:

1. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 27 cm.
2. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 40 cm.
3. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 27 cm.
4. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 30 cm.
5. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 37 cm.
6. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 28 cm.
7. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 34 cm.
8. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 36 cm.
9. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 3 cm.
10. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 3 cm.
11. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 3 cm.
12. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 3 cm.
13. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 3 cm.
14. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 6 cm.
15. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 6 cm.
16. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 6 cm.
17. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 8 cm.
18. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 8 cm.
19. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 9 cm.
20. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 14 cm.
21. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 11 cm.
22. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 13 cm.
23. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 12 cm.
24. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 12 cm.
25. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 15 cm.
26. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 13 cm.
27. Pohon ganja dengan tinggi tanaman 13 cm.
Baca juga:
Cerita 2 Ibu Minta MK Legalkan Ganja untuk Kesehatan

Ardian berharap UU Narkotika hanya diterapkan pada tanaman ganja yang sudah miliki ketinggian tertentu. Adapun ganja yang masih kecil/perdu layaknya yang ditanam secara hidroponik dengan tujuan kebugaran tidak masuk didalam larangan sebagaimana diatur UU Narkotika.

“Sebenarnya beliau miliki penyakit epilepsi atau kecuali tidur itu bahagia kejang-kejang. Sehingga itu mengganggu yang di sebelahnya. Jadi beliau itu akan terkontrol kejangnya pas mengfungsikan ganja maka epilepsinya kambuh lagi,” kata pengacara Ardian, Singgih Tomi Gumilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *