Tanda Tubuh Terlalu Banyak Konsumsi Garam

Tanda Tubuh Terlalu Banyak Konsumsi Garam

Makanan terasa hambar tanpa garam. Tak heran Anda akan mendapatkan garam hampir di tiap makanan apalagi didalam sepotong kue kering manis sekalipun. Garam, selain gula dan lemak, merupakan pemicu penyakit tidak menular.

Kementerian Kesehatan memberi saran untuk menghalangi asupan garam atau natrium maksimal 2.000 miligram per orang per hari.

Barangkali cukup sukar mengukur asupan garam harian mengingat cuma makanan kemasan yang mencantumkan kandungan garam. Seporsi nasi padang atau semangkuk bakso akan sukar diketahui kandungan garamnya.

Dari sini, Anda pun perlu cermat dikarenakan tubuh sebetulnya mengirimkan tanda atau tanda saat kelebihan mengkonsumsi garam. Berikut tanda tubuh Anda benar-benar banyak garam, menurut para ahli.

1. Buang air kecil benar-benar sering

Tanda lazim akibat benar-benar banyak mengkonsumsi garam adalah Anda sering buang air kecil. Keinginan buang air kecil ini bisa saja timbul di malam hari atau di saat tidur.

Dilansir dari NDTV, sering buang air kecil sebetulnya terhitung tanda penyakit seperti infeksi saluran kencing, diabetes style 2 terhitung kemih yang benar-benar aktif. Namun Anda perlu mengecek akar permasalahannya terasa dari cek mengkonsumsi garam baru kemudian ke dokter untuk konsultasi.

2. Terus terasa haus

Rasa haus sebetulnya wajar seperti Anda terasa lapar. Namun kalau rasa haus ini seperti terus mampir dan tidak kunjung terpuaskan dengan air, bisa jadi Anda benar-benar banyak mengkonsumsi garam.

Sebagaimana dilansir dari Livestrong, rasa haus disebabkan konsentrasi darah terasa naik dipicu peningkatan zat terlarut, terhitung natrium, kemudian otak dan ginjal terasa bekerja untuk memulihkan keseimbangan.

Hormon antidiuretik diaktifkan sehingga tubuh menahan cairan untuk mengencerkan lonjakan natrium. Sebuah studi terhadap Desember 2016 menyebut didalam sistem ini, tanda saraf bisa beri tambahan tanda sensasi haus.

Agar tidak dehidrasi, tubuh beri tambahan tanda haus, mulut terasa kering begitu pula kulit.

3. Makanan terasa hambar

Tanpa Anda sadari, makanan apapun yang Anda mengkonsumsi jadi terasa hambar atau tidak cukup mantap. Makin banyak makan garam, semakin makin tambah pula kebutuhan akan garam untuk mendapatkan respons serupa.

“Banyak orang barangkali tidak mengetahui seberapa banyak kelebihan natrium yang mereka mengkonsumsi sebagai akibat dari perubahan atau penumpulan kebolehan indera pengecap dikarenakan kelebihan garam,” ujar Mandy Enright, pakar gizi dan pelatih kebugaran di New Jersey, dikutip dari Women’s Health Magazine.

4. Kembung

Makin banyak garam yang Anda konsumsi, semakin banyak air didalam tubuh. Saat benar-benar banyak garam didalam darah, air meninggalkan sel-sel tubuh sehingga membawa dampak pembengkakan. Anda pun akan merasakan kembung dan begah.

“Kadar garam yang ekstrem, diikuti kelebihan air untuk menyeimbangkan bisa membawa dampak kembung, terutama terhadap area perut,” mengetahui Enright.

5. Edema

Selain perut kembung, akan berlangsung pembengkakan di lebih dari satu area tubuh. Bengkak umumnya terdapat terhadap jari-jemari dan kurang lebih tungkai. Ini berlangsung akibat kelebihan cairan terhadap jaringan atau disebut edema.

Meski edema bisa saja tanda penyakit atau kasus kebugaran lain, Anda bisa kurangi pembengkakan dengan memangkas mengkonsumsi garam.

6. Sakit kepala

Pernah mengalami sakit kepala tanpa alasan yang jelas? Cek makanan paling akhir yang Anda konsumsi. “Terlalu banyak garam bisa membawa dampak pembuluh darah otak melebar, yang mana bisa menimbulkan sakit kepala,” ujar Enright.

7. Tekanan darah naik

Konsumsi makanan tinggi garam memainkan peran didalam kenaikan tekanan darah. Ahli kardiologi preventif di Cleveland Clinic, Luke Laffin mengatakan kelebihan garam bisa menambah retensi cairan dan membawa dampak tekanan darah naik.

Kunjungi Juga : Info Kesehatan

Cairan berlebih akan mencukupi kapasitas pembuluh darah. Lama-kelamaan, tekanan terhadap pembuluh darah bisa mengganggu aliran darah dan oksigen ke organ tubuh.

Jantung semakin bekerja keras untuk memompa darah, begitu pula ginjal perlu kerja ekstra untuk mengembalikan cairan dan menyeimbangkan elektrolit.

“Hipertesi jangka panjang yang tidak terkontrol menambah risiko stroke, serangan jantung, gagal jantung dan penyakit ginjal kronis,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *